PADA era globalisasi dan modern ini, energi merupakan suatu kebutuhan yang sangat krusial, baik sebagai bahan bakar transportasi maupun energi listrik untuk industri dan rumah tangga. Di Indonesia, kebutuhan energi terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Sumber energi utama saat ini dari minyak bumi yang produksinya terus menurun. Jumlah konsumsi BBM yang tinggi dan produksinya yang menurun menyebabkan peningkatan impor minyak mentah dan BBM dari luar negri.
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, pada 2015 konsumsi minyak bumi sekitar 1.600.000 barel per hari, sedangkan produksi minyak menurun selama satu dekade terakhir dan pada 2015 produksi BBM sekitar 800.000 barel per hari.
Ketergantungan terhadap energi fosil untuk memenuhi konsumsi energi di dalam negeri masih 96%. Untuk mewujudkan percepatan pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dengan target 25% pada 2025, ada tiga pilar utama yang perlu diperhatikan.
Pertama, proses bisnis yang efektif dengan regulasi dan proses bisnis yang menuju pada satu visi antara pemerintah dan pemangku kepentingan bisnis energi.
Kedua, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Karena itu, upaya untuk meningkatkan SDM teknik yang kompeten perlu dipersiapkan. Ketiga, penyiapan teknologi yang memadai sebagai landasan pengguanaan EBT.
Kendala
Kendala dalam penggunaan EBT di antaranya, kesulitan mempergunakan sumber-sumber tersebut pada skala besar, investasi awal yang mahal, jenis EBT sangat beragam, ketersediaan pasokan bahan baku yang tidak kontinu, juga fluktuatif karena sangat bergantung pada alam.
Namun upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber energi terbarukan perlu terus dilakukan untuk menjaga ketahanan energi di negeri ini. Dengan demikian, kebutuhan energi, baik untuk saat ini maupun masa mendatang dapat terpenuhi.
Sebagai Ketua Pusat Studi Energi Alternatif Universitas Muhammadiyah Surakarta, saya telah mengembangkan biofuel, khususnya bioetanol dan biodiesel, sebagai sumber energi alternatif di Indonesia melalui inovasi teknologi proses produksi.
Hasilnya, meningkatkan produksi bioetanol dari 200 liter per hari menjadi 400 liter per hari.
Meningkatkan kadar bioetanol dari 70% menjadi 90%.
Meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Meningkatkan penghasilan perajin bioetanol.
Meningkatkan kesempatan tenaga kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
Memperluas pangsa pasar bioetanol sebagai bahan bakar melalui strategi pemasaran paket kompor bioetanol dan bahan bakar bioetanol. Denagn upaya itu, Pusat Studi Energi Universitas Muhammadiyah Surakarta telah ikut berperan dalam program pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif ke depan.
Karena itu, untuk mewujudkan ketahanan energi pada masa depan, salah satunya dengan pemanfaatan biofuel sebagai sumber energi alternatif untuk mendorong terwujudnya penggunaan biofuel sebagai bahan bakar transportasi, penggunaan sumber daya hayati sebagai sumber bahan bakar alternatif, dan mempercepat pengembangan teknologi pengolahan biofuel.
.
.
Judul: Biofuel Dukung Ketahanan Energi Nasional
Penulis: Kusmiyati
Sumber: suaramerdeka.com